Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Gadis Kampung (part 5)

The story before


Ketika aku sedang berjalan-jalan. aku melihat Indra sedang berlari ke arah bawah jalan pendakian biasa. Ternyata Indra juga pulang kampung. Kenapa dia tidak bilang padaku? Dan aku spontan berteriak.

“Innn…….”tiba-tiba suaraku mengecil dan tak sadar aku menutup mulutku dengan tangan kananku. Dan segera pergi menjauh dari tempat aku melihat Indra. Tak sadar butiran-butiran bening air mata mengalir dipipiku. Aku pun  tetap terus berjalan kencang dan tak ingin melihat kebelakang.


Kisah Cinta Gadis Kampung (part  5)


Apa-apaan ini? Kenapa ia memeluk gadis itu? apa yang aku lakukan padanya sehingga ia berbuat seperti itu pada gadis lain? Aku tidak pernah menghianatinya, tapi kenapa ia menghianatiku? Apa kurang dan salahku? Mengapa ia melakukan ini? Apakah dia balas dendam padaku, karena aku pernah membuatnya menunggu jawaban dariku?
Seluruh pertanyaan berkecamuk didalam pikiranku, aku benci dia seumur hidupku. Dia bukan cowok yang baik seperti yang aku kenal selama ini. Dia hanya cowok pintar yang berhasil membodoh-bodohi cewek bodoh seperti aku.

Sahabatku telah datang membawa surat kembali. Ya…Mela adalah sahabat yang baik dan selalu menjadi perantara cowok-cowok untuk berkirim surat padaku.  Kali ini surat dari Indra.

To : Lina
Assalamualaikum
Lina sayang, maaf aku tidak memberi tahumu kalau aku hari ini pulang ke kampung. Ini terkesan mendadak dan aku tidak sempat menghubungimu. Oh iya… tadi aku melihatmu berlari-lari di dekat pendakian. Aku harap tidak terjadi apa-apa pada dirimu. Mungkin kita bisa bertemu di malam ini di taman dekat balai. Aku tunggu sayang.
                                                                                                                                            Wassalam
Aku pun mengikuti kata-kata Indra, dan bertemu dengannya bersama Mela ditempat yang ia janjikan. Tiba-tiba terdengar suara ribut kaki-kaki melangkah, dan suara-suara orang kampung. Sontak saja aku, Indra, Mela terkejut dan takut ketahuan. Tiba-tiba saja Indra menarik tanganku kencang, menggandeng bahuku menuju ke belakang balai untuk bersembunyi. Sedangkan Mela memberanikan diri keluar untuk melihat kejadian yang terjadi.

“Melaa…Manga wak surang malam-malam siniak?” kata seorang ibu yang sedang ikut bergerombol bersama orang kampung  lainnya yang tak sengaja melihat Mela.

“Ndak ado bu, ka pai karumah dunsanak ko ha sabanta” kata Mela berbohong pada Ibu itu.

Copeklah, langsung taruih pulang, jan malala,ndak ado anak gadih kalua malam do” balas Ibu itu.

“Iyo bu, baa urang bangi-bangi bu?” Tanya Mela.

Ko urang ka mancari anak bujang nan dari Bukik Tinggi, sering bana masuk kerumah anak gadih tanpa ado ikatan apo-apo, malam ko juo kalau dapek urangnyo ka langsung dinikahkan jo” kata ibu itu dan langsung saja meninggalkan Mela.

“Apaaa…??” aku berteriak menguping pembicaraan Mela dan Ibu itu. Seketika saja Indra menutup mulutku.

“ssstttttttt….” Ucap Indra meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya.

Tiba-tiba saja Mela datang ketempat aku dan Indra bersembunyi dan pamit karena ingin  melihat keadaan diluar sana yang ingin mencari aku dan Indra. Aku dan Indra pun tetap bersembunyi dibelakang balai.

Malam semakin larut,kusandarkan badanku pada dinding balai yang dingin dan terduduk. Sekarang dingin seakan menjalar dari ujung-ujung kakiku sampai ujung rambutku, sungguh dingin sekali. Seketika Indra melepaskan jaketnya kemudian membalutkannya pada tubuhku.

“Kalau kita memang dinikahkan beneran, kamu mau Lin?” Indra membuka suara.

Aku terdiam seribu bahasa, aku gak ingin dinikahkan dengan cara yang seperti ini. Apa kata Bapak-Ibu dan orang kampong nanti. Cepat-cepat aku tutup mataku dan berpura-pura tertidur.

“Yahh… ternyata udah tidur” kata Indra terdengar olehku.

Indra meraih kepalaku lembut dan menyandarkannya pada bahunya. Dalam hati aku ingin berontak. Karena prinsip hidupku tak ingin melakukan sesuatu hal gak sesuai syariat agama yang telah diajarkan Bapakku. Tapi kali ini aku terlalu lemah, marah dan begitu takut.

Suara Melapun memecah keheningan malam.

“Wooyy…enak-enakan aja kalian berdua, hussshh..hussshhh…” Mela berusaha memberi jarak pada aku dan Indra.

“Oh iya Lin, ternyata yang dicari orang kampung itu bukan kalian, tapi pacar anak perempuannya Pak Beni, untung aja bukan kalian” sambung Mela.

“Haa… beneran Mel?” kataku gak percaya dan berdiri mendekati Mela.

“Ih.. serius, dua rius, sampai merkurius dehh” balas Mela sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya berulang-ulang.

“Ohh yaudah Mel, yuk kita pulang! Eh ada yang lupa, tunggu bentar” kataku pada Mela.

Kemudian aku melihat kearah Indra. Indra pun melihat kearahku dengan penuh kebingunan. Seketika saja malam itu menjadi hening sejenak. Akupun mulai angkat bicara.

“Indra, aku rasa kau dan aku memang tidak cocok dan aku harap kau jangan pernah datang lagi menemui aku, karena aku tak ingin dibohongi untuk kedua kalinya” ucapku lirih pada Indra.

Aku menarik tangan Mela dan berlari bersama-sama menuju rumah. Ku lihat Mela kebingungan dengan apa yang terjadi sedangkan Indra aku tinggalkan begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.

Sesampai dirumah, bukannya langsung tidur. Aku dimarahi habis-habisan sama Bapak, karena pulang terlalu malam. Ditambah lagi aku ketahuan berbohong karena alasan yang bodoh.

Duuhhh…. Begok banget sih, kan dimana-mana banyak mata kucing berkeliaran, kenapa juga aku gak sadar ya?? Mau nya tadi aku langsung jujur aja sama Bapak. Toh sebenarnya mungkin Bapak gak akan semarah ini, karena Bapak kenal juga sama Indra.Bodoh…bodoh.
Sejak saat terakhir aku bersama Indra aku tak pernah ingin melihatnya dan berbicara padanya lagi, walaupun ia sering muncul dan menanyakan perbuatannya padaku sambil berpura-pura bodoh tidak menyadari kesalahnnya.

to be continued....

note : 

Melaa…Manga wak surang malam-malam siniak?  = Melaa, kenapa malam-malam disini.

Ndak ado bu, ka pai karumah dunsanak ko ha sabanta  =  Tidak ada bu, ini mau kerumah saudara sebentar.
Copeklah, langsung taruih pulang, jan malala,ndak ado anak gadih kalua malam do  =  Cepatlah, siap ini langsung pulang, jangan pergi juga, tidak ada anak gadis keluar malam.

Iyo bu, baa urang bangi-bangi bu?  =   Iya bu, kenapa orang marah-marah bu?

Ko urang ka mancari anak bujang nan dari Bukik Tinggi, sering bana masuk kerumah anak gadih tanpa ado ikatan apo-apo, malam ko juo kalau dapek urangnyo ka langsung dinikahkan jo =    Ini orang mau mencari  cowok yang dari Bukit Tinggi, sering sekali masuk kerumah cewek yang bukan muhrimnya, mala mini juga a kalau dpat orangnya langsung dinikahkan.


makasih bagi yang telah membaca,,, jangan lupa like dan komentarnya... :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar