Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Gadis Kampung (part 2)

The story before
...

Aku kembali menuju kamarku dan duduk diatas kursi didepan mejaku. Kuraih teh yang sejak tadi aku buat kemudian meminumnya. Dingin. Itu yang aku rasakan pada teh ini.

Kubuka perlahan-lahan amplop putih itu dan kudapati kertas berwarna hijau.
"Haa?? Warna favorit aku nih,kok bisa ya? " gumamku dalam hati.

Kuamati kalimat demi kalimat yang ada didalam secarik kertas itu yang gak tahu ntah siapa pengirimnya. Kata-katanya menggugah hati yang sedang membacanya dan membuatku secara tak sadar menyunggingkan senyuman tipis. Setelah aku selesai membacanya kulipat lagi kertas itu dan aku raih sebuah buku kemudian diselipkan di salah satu halamannya.

Kisah Cinta Gadis  Kampung (part 2).....

Bunyi-bunyi ciatan ayam telah membangunkan aku yang terjaga. Sontak aku bangun dan kubuka jendela kamarku yang terdiri dari dua pintu  itu, cahaya mentari langsung memancar  hingga membuatku menyipitkan mata, anginpun dengan sergap datang menerpaku menerbangkan kain gorden dan rambutku. Angin yang sejuk dan bersahaja, aku paling suka angin yang menerbangkan helaian-helaian rambutku, sudah terlalu sering angin datang menggodaku untuk bermain bersamanya, tapi aku merasa tidak ada waktu yang tepat untuk bermain.

Seperti biasanya aku melakukan semua rutinitasku, apalagi hari minggu, pas lagi mau istirahat karena udah capek seharian beres-beres rumah,pasti selalu ada aja orang yang gangguin.

“Linaa….Linaaa… pai main awak laa!

Benarkan? Baru saja mau istirahat, udah ada yang manggil-manggil. Benar-benar melelahkan. 

“Linaaa…. Indra dan Mela datang tu” panggil Ibu dari arah depan.

“Ya Bu, tunggu bentar!” balasku.

Akupun menemui Mela dan Indra yang telah duduk di kursi tamu.

“Apa sih, capek ni mau tidur” ungkapku sambil mengusap-usap sebelah mataku.

“Gantilah baju Lin! kita pergi ke bukit Sarasah, ada air terjun yang baru ditemuin disana” ajak Indra dengan mata lurus serius menatapku.

“Ha, beneran ada air terjun yang baru ditemuin? Wah, harus pergi ni. Tunggu bentar ya!”

“Iya-iya , cepetan Lin! tak paralu manggaya-gaya bana, awak ka main aia juo tibo situ” ujar Mela dengan kata-kata jengkel.

Selama diperjalanan menuju ke bukit aku paling suka memetik buah sijontiak, rasanya manis tak jauh beda dari rasa buah anggur. Berwarna merah maroon kecil-kecil. Teringat masa kecil ketika Bapak bersamaku dulu, ia selalu memberikan aku buah ini sebagai oleh-oleh pulang dari bukit.

“Lina, sini dulu nak, ni ada buah sijontiak” kata-kata khas dari seorang Bapak pada anaknya seraya memasukkan sebelah tangannya kedalam kantong dan ketika Bapak membuka genggamanya nampak banyak sekali buah sijontiak laksana seperti orang siap melakukan atraksi sulap.  Kalau Bapak pulang, buah ini lah yang selalu aku tunggu-tunggu.

Biasanya kalau mau ke bukit tak lupa selalu aku sediakan kantong asoy kecil, kemudian buah sijontiak akan aku petik sebanyak aku dapat. Biasanya buah ini hanya ada dihutan-hutan bukit dan ada disekeliling jalan setapak. Dalam perjalananpun aku, Mela dan Indra asyik menikmati buah hutan lezat yang satu ini.

“Akhirnya sampai juga ya kita disini,nanti diujung setelah kita melewati kebun jambu mete terus  langsung nampak tu” ucap Indra menunjuk dengan jari telunjuknya.

“Aduuh, capek ni In, apa kita gak kena marah nanti sama orang sini pergi ketempat yang baru hanya bertiga?”

“Ya gak lah, anak muda disini udah lumayan banyak yang datang main kesini” balas Indra.

Ketika kami berjalan dan asyik berbincang-bincang. Terdengar suara laki-laki dari belakang.

“Ooiii Lin, manga wak kau kasitu jo urang jantan?

Akupun melihat Indra dan tak sadar berbarengan jalan berdua-duan sementara Mela udah keburu lari duluan meninggalkan aku bersama Indra. Aku menoleh kebelakang.

“ Yo Tuan, awak ka pai main ka aia terjun, jo si Mela bagai, ndak awak baduo jo do” balasku dengan nada suara deg-degan.

Semuanya berlalu,kami telah sampai di lokasi air terjun. Akupun memilih tempat yang ada batunya dan memilih duduk sendiri diatas batu yang kehijau-hijauan oleh lumut. Kuamati  semua yang ada disekeliling air terjun ini, memang tampak beberapa muda-mudi perpasang-pasangan disana.Pemandangan disini sungguh indah dan asri.

Kunikmati hembusan angin yang menerpa wajah dan rambutku. Sepertinya angin ingin mengajakku lagi bermain bersamanya. Dengan sergap aku berdiri diatas batu yang kududuki tadi. Aku angkat tanganku mengambang menikmati hawa sejuk aroma dedaunan yang membuat hatiku terasa damai. Helaian rambut yang menutupi sebagian wajaku kubiarkan saja, percuma saja aku selipkan dibelakang telingaku.

Aku habiskan beberapa menit waktuku untuk berkeliling-keliling kawasan air terjun bersama Mela sedangkan Indra yang tidak ikut hanya ingin duduk-duduk saja dibawah pohon yang rindang. Aku amati Mela yang kegirangan dan menebarkan senyum pesonanya pada setiap cowok yang lewat dihadapan kami. Benar-benar lucu dan menghibur sahabatku yang satu ini.

“Iiihh… sebel deh” Mela membuka pembicaraan.

“Sebel apaan sih Mel? Tempat indah kayak gini kok disebelin?”sambungku.

“Sebel karena yang diperhatiin cowok-cowok yang lewat tadi itu cuma kamu, setidaknya mereka lihat aku kek” kata Mela memasang muka meles sedih.

“Abisnya sih, kamu senyum-senyum lebar kayak orang gak waras gitu” ucapku.
“Aah… Lina jahat deh, kan aku mau diperhatiin juga sama cowok, selama ini kamu terus yang punya, sedangkan aku jangankan punya yang mendekatpun tak ada”

“Huusss… gak boleh ngomong gitu kali Mel, jodoh itu ditangan Allah, setiap makhluk ada pasangannya” kataku menghibur Mela.

Tiba-tiba saja Mela menarik tanganku dan membawa aku ketepi air terjun.

“Sini deh Lina, coba kamu lihat disini!” kata Mela menunjuk sesuatu. “Apa yang kamu lihat Lin?”

Aku berpikir sejenak dan menjawab, “Air."

“Ya ampun, itu kita berdua, bayangannya tauk” kata Mela gemes.

“Iya-iya ada bayangan wajah kita Mel, tapi apa hubungannya?”tanyaku.

“Kamu itu kapan nyadarnya sih? Atau pura-pura gak tahu? Kamu itu cantik,perfect. Nah, aku?” kata Mela dengan nada murung.

Aku perhatikan setiap detail dari wajahku, mungkin selama ini aku tidak terlalu perduli dengan wajah ini. Apakah cantik?jelek?manis? yang aku tahu rata-rata setiap cowok selalu berusaha mendekatiku. Akupun melihat sekali lagi dengan teliti ditempat air yang tenang ini. Kuning langsat, alis mata tebal dan panjang, bibir  tipis, hidung kecil tak terlalu mancung, mata yang lumayan besar dengan bulu mata lentik, dan helaian rambut yang berterbangan. Aku lihat ada wajah Bapakku yang tercermin dari wajahku. Dan sekarang aku benar-benar menyadari bahwa aku itu cantik. Ya… aku itu cantik.

“Mela, kamu jangan ngomong cantik atau ti….”

“Lin, lompat yok ke air” ajak Mela kegirangan sambil memotong pembicaraanku.
“Aku belom,selesai ngomong tauukk!”

“Allaahhh… lagian kamu bakal ngerendah gitu, aku udah tau sifat kamu lagi Lin” kata Mela nyingir.

“Byyyuuuuuurrrr”

Aku dan Mela pun melompat kedalam air sembari tertawa riang, sedangkan Indra tidak ikutan nyemplung ke air. Dia hanya melihat-lihat kami dari jauh. Kemudian aku dan Mela berenang ketepian menghampiri Indra.

“In, tadi kamu yang ajak, tapi kok gak ikut berenang?” ujarku bertanya.

“Iya nih si Indra, gak asik lah” kata Mela. Kemudian Mela pun mengibas-ngibaskan air kearah  Indra hingga membuat Indra basah kuyup.

“Melaa… aku takut flu tau” kata Indra langsung lompat ke air dan mengejar Mela yang langsung kabur.

Setelah selesai bermain kami pun pulang, ketika  sampai dirumah ku dapati Bapak telah duduk menunggu di ruang tamu.

Lin, dari maa wak kau sojak cako?kecek urang kau pai baduo jo urang jantan ka Sarasah” Kata Bapak  sambil memercikkan api kemudian menghisap tembakaunya.

“Baduo? Jo si Mela bagai mah” bela ku, kemudian aku mencium tangan Bapakku.

“Bisuak-bisuak jan ado pangaduan bantuak ko lai ndak nak, malu. Awak anak gadih ndak elok pai-pai jo urang bujang siapopun urangnyo”

“Yo lah Pak, sekali ko nyo” kataku pada Bapak meninggalkan ruang tamu menuju kamarku.

Bapak memang seseorang yang peduli, walaupun dia hanya Bapak tiriku, tapi aku merasa dia sepertinya memang memperhatikanku layak seperti anak kandungnya yang lain.  Setiap ada kejanggalan yang aku lakukan pasti orang kampung akan datang mengadu pada Bapakku. Bapak adalah kepala desa di kampung ini. Makanya setiap orang begitu kenal dan tau. Untuk itu aku selalu berusaha untuk tidak mengecewakannya. 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Linaa…. Banguunn!! kita pergi mandi lagi”

Terdengar olehku teriakkan Mela yang kencang membangunkanku di pagi yang kelam. Akupun bersiap-siap mengambil semua peralatanku dan bergegas pergi. Selagi aku dan Mela berjalan, dari kejauhan aku melihat orang duduk diatas motornya memakai baju yang serba hitam dan memakai helm, akupun sangat susah mengenalinya dari kejauhan.

To be continued....


Note: 
Pai main awak laa!        = Ayo kita pergi main.

Tak paralu manggaya-gaya bana, awak ka main aia juo tibo situ = Tidak perlu terlalu bergaya, tiba disana pasti kita main air juga.

Manga wak kau kasitu jo urang jantan? = Ngapain kamu disana bersama laki-laki?

 Awak ka pai main ka aia terjun, jo si Mela bagai, ndak awak baduo jo do = Kami akan bermain ke air terjun, bersama Mela juga, tidak kami berdua saja.

Lin, dari maa wak kau sojak cako? kecek urang kau pai baduo jo urang jantan ka Sarasah  = Lin, dari mana saja   kamu sejak tadi ? kata orang kamu pergi berdua sama laki-laki ke bukit Sarasah.

Baduo? Jo si Mela bagai mah =  Berdua? Sama Mela juga kok.

Bisuak-bisuak jan ado pangaduan bantuak ko lai ndak nak, malu. Awak anak gadih ndak elok pai-pai jo urang bujang siapopun urangnyo   =   Besok-besok jangan ada pengaduan seperti ini lagi nak, malu. Kita anak gadis tidak baik pergi                                       sama laki-laki siapapun orangnya.

 Yo lah Pak, sekali ko nyo =  Ya Pak. Cuma sekali ini saja.


Bagi yang baca jangan lupa Like dan komentarnya ya... Thank you :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar