Senin, 22 Mei 2017

Kerajinan Tangan

Assalamualaikum warohmatullahi Wabarokatuh

Haii... Apa kabar semua? Aku kembali lagi buat nge-share tentang daily activity aku. Hihi. Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 19 Mei kemarin aku bersama “konco arek” aku yaitu Afri dan Nadia melakukan sesuatu yang belum pernah kami coba ngelakuin sama-sama sebelumnya, hehe.

Berawal dari undangan wisuda yang datang bejibun, mengharuskan kami menguras otak harus memberikan hadiah apa kepada temen yang wisuda. Secara gak enak aja rasanya bawa tangan hampa ketika ingin merayakan hari bahagia ya kan?? Belum lagi budget lagi pas-passan. Jadi Afri bilang kalau pengen ngasih bunga. Sedangkan bunga yang kudu dibeli juga haruslah banyak karena yang ngundang wisuda juga banyak.

Waktu itu kebetulan yang lagi ngumpul cuma aku, Nadia dan Afri. Nika lagi gak stay di Pekanbaru karena sedang penelitian di Sumbar. Afri nyaranin buat bucket bunga flanel handmade. Yaa... kita buat bunga sama-sama gitu, buatan sendiri.

Sebelum belanja keperluan untuk membuat bunga, sempet diskusi sama Ibu aku tentang cara buat bunganya, bahan dan sebagainya. Soalnya kagak pandai buat-buat kayak begituan kan sebelumnya. Pun pas jaman SD kalau buat kerajinan tangan pasti Ibu terus yang selalu buatin. Hehe. Sempet juga diskusi dengan Ibunya si Hasna, waktu itu kebetulan lagi main ke rumah Hasna dan Ibunya Hasna juga mahir soal membuat kerajinan tangan. Alhasil nanya-nanya juga sama Ibunya Hasna gimana cara buat dan dimana beli alat-alat perlengkapan membuat kerajinan tangan.

Waktu itu galau mau beli bahan dimana, soalnya tempat langganan aku beli bahan kerajinan dulu itu sudah digusur ntah kemana. Akhirnya Ibunya Hasna nyaranin membeli bahan-bahan yang murah itu ada dibeberapa tempat gitu. Cuma kebetulan Ibunya Hasna punya member diskonnya Ratu Paksi dan nyaranin ke Ratu Paksi aja dan Ibunya Hasna meminjamkan member diskonnya. Yeeaayy!!

Taraaa....kamipun sepakat untuk belanja bahan-bahan untuk buat bunga flanel di Ratu Paksi, katanya sih murah-murah. Mungkin sebagian orang Pekanbaru udah tau lah ya dimana lokasi Ratu Paksi. Deket Rayamana. Tempatnya didominasi dengan unsur ala girly gitu. Nah, kalau mau buat bunga-bunga flanel atau bahan-bahan kerajinan, kayaknya Ratu Paksi salah satu tempat yang recommended lah, harga juga gak terlalu mahal, tapi kalau nemu grosiran yang lebih murah kan lebih bagus yaa, mana tau masih bisa nego kalau beli buaaanyaak. Wkwk. 

Ketika proses pembuatan


Untuk membuat bunganya,l diajarin sama Ibu aku cara membuat bunga flanel. Agak susah-susah gampang sih. Diawal susah banget, tapi lama kelamaan terbiasa juga dan bagus juga sih hasilnya,lumayan lah. Hehe.


Ini penampakan bunga flanel ala kami :D




Alhamdulillah kami berkesempatan membuat bunga flanel yang besar dan yang kecil. Cukup menguras waktu dan tenaga juga dalam pembuatannya. Plus aku sampai harus merasakan sakit pinggang akibat duduk berjam-jam. Bisa dikatakan membuat ini aja kami mulai dari jam 14.00 dan selesai sampai jam 22.00. Yaaa... gak full ngerjain aja sih, sambil cerita-cerita juga, sambil makan, sambil curhat :") *eeehhh. Haha

Diakhir kami selesai membuat bunga flanel, bisa dikatakan kamar gak bentuk kamar lagi. Haha. Dan alhamdulillahnyaa Ibu aku beliin kami sate danguang-danguang buat dimakan bersama. Hehe.

Pokok ee selama ngerjain itu susah tapi pas sudah selesai rasanya lega banget. Thanks yaa buat kekompakan kita we. Jualan kita lagii....sihiii..

Taraaa... ini juga hasil bunganya. Cantikkah???


Bonus wajah si Nadia sambil pegang bunganya.


 Ini bunga versi besarnya. Gimana????


Dari semua yang kami kerjakan, alhamdulillah selesai. Bunga yang kami buat dengan modal yang minim tapi bisa membuat sesuatu yang waaahh dan mudah-mudahan saja membuat hati sang penerima senang. Mudah-mudahan aja ya...

Bunga yang kami buat, kami persembahkan untuk temen sekelas kami yang udah lulus duluan. Anak kelas pertama yang pecah telor bisa wisuda. hehe. Selamat ya Fadilla Balqis, S.I.Kom. Dan juga buat teman-teman kami, baik teman sekampus dan juga teman KKN tersayang yang pernah mengisi hari-hari selama dua bulan. Memang mungkin buatan kami tidak sebagus orang lain, tapi niat hati tetap ingin memberikan yang terbaik kok. Hehe. Semoga suka yaaa hasil buatan tangan abal-abal ini :P Doakan kami cepat menyusul yaa.....Berikut beberapa foto ketika acara wisuda UIN Suska Riau:



Bareng Dila yang udah lulus duluan.


Bareng anak KKN

Nah, mungkin itu saja cerita hari ini. Moga bisa memotivasi semua ya... Wassalam.







Sabtu, 13 Mei 2017

Mencintai Kehilangan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh







Dalam sendunya irama lagu, diiringi oleh rintikan hujan yang turun membasahi bumi. Aku menatap langit dari jendela kaca kamar. Ya...hanya mendung kelabu yang terlihat senja ini. Di bagian barat sana ada sedikit membayang warna pelangi yang tampak malu-malu untuk menunjukkan dirinya.

Disini....di dalam hati aku meringis pilu tak tertahankan. Meneteskan bulir-bulir air mata yang aku sebut itu sangat memuakkan. Semakin dibendung maka semakin deras pula ia mengalir. Bibir bergumam, bergetar menahan tangis. Dada terasa sesak tak sanggup untuk menahan. Air mata masih terus saja mengalir semaunya. Aku tertunduk lesu, menekan dada kiriku karena terlalu dalamnya lara yang terbawa. Cegukan tangis tak bisa aku hentikan, aku masih saja terus menangis. Entah mengapa bisa terasa serapuh ini. Aku sangat yakin, karena ini seperti bukan aku yang biasanya. Ya... karena aku kuat, aku mampu, aku akan baik-baik saja.

Sesuatu terasa berbeda. Beberapa detik setelahnya aku berdelik. Dengan jari-jemari ku usap cepat air mata yang terus mengalir. Kedua tangan ini mengatup mulut agar berhenti cegukan karena menangis lagi. Kemudian  aku berpikir. Aku sadar, bahwa aku hanya berpura-pura tegar dengan keadaan yang ada. Aku hanya berpura-pura dengan membohongi diri sendiri untuk terlihat baik-baik saja. In fact, I am fake,  I am lying to make it look be fine to others. It makes me like going crazy. What should I do now? Im trying to make everything Okay, but the failure that I get.

Tuhan, sungguh berat hati ini. Bila rindu saja sakitnya sudah seperti menikam jantung sendiri, bagaimana mungkin harus kehilangan? Masih adakah yang lebih sakit lagi dari itu?

Sebelumnya semua terasa baik-baik saja. Luka yang telah lama usai, yang dengan susah payah untuk disembuhkan, kini kembali berdenyut. Seketika lambat laun luka itu semakin ternganga lebar meninggalkan sakit yang luar biasa dalam.

Aku merasa tiada apa-apa, semua yang terjadi tak ubahnya seperti buih ditengah lautan. Hilang tanpa ada yang tersisa. Lenyap tanpa ada yang bisa disimpan untuk menjadi kenang.

Sudahlah... hal yang menderu-dera ini pasti akan berakhir dan akan hilang dalam proses berjalannya waktu. Mungkin sabar dan doa adalah tiang terakhir untuk menyelamatkan diri sebelum terporosok kedalam jurang yang lebih dalam lagi.

Aku pun menghentikan semua kesedihan yang terasa. Menoleh kebelakang dan kulihat buku harian yang selalu setia berbagi kisah tentang hari-hariku. Seketika dunia seperti memanggilku berbisik untuk memulai menuliskan sesuatu.

Ya... seperti sebuah buku catatan harian ini. Akan selalu ada halaman yang kosong setelahnya. Tinggal sudahi halaman yang telah tertulis. Kemudian bukalah lembaran kosong yang baru.

Mulailah menulis lagi. Tulis segala hal yang ingin dicapai. Buatlah semuanya seolah-olah terasa nyata dan akan terwujud. Buatlah  orang-orang disekitarmu bangga. Karena diri ini berhak untuk terus bahagia. Nikmati masa-masa penantian yang ada. Teruslah berbuat baik kepada siapapun. Tulis nama-nama mereka yang telah membuatmu merasa kecewa, terlukai, dan membawa dera dalam dirimu. Berikan kepada mereka kesempatan untuk melihat bahwa diri ini  mampu untuk bangkit lagi. Mereka tak lain hanyalah piguran semata untuk membuatmu semakin kuat. Teruslah semangat seperti ini. Selama-lamanya.



Senin, 08 Mei 2017

After Long Time

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Mungkin inilah yang saat ini sedang terasa. Tiba-tiba rasa rindu itu muncul kembali. Sesekali untuk mengobati rasa itu, medsos menjadi tempat mencurahkan segala hal yang ingin disampaikan. Ntah itu tentang yang dirasa, tentang yang dipikirkan, yang dilihat, dilakukan dan sebagainya. Ya... aku rindu menulis lagi pada blog ini.

Aku masih baik-baik saja. Lah emang ada yang nanyain? Gak peduli sih ada yang nanya atau enggak, tapi hanya ingin meyakinkan diri sendiri aja bahwa apa yang terjadi sekarang harus selalu baik. Selalu positif!

Dalam menjalani keseharian, aku sadar. Aku bukan lagi anak perempuan kecil. Aku adalah wanita, harapan bagi kedua orang tuaku. Adalah kakak bagi adik-adikku. Pemimpin bagi diriku sendiri. Menjadi panutan yang baik adalah suatu keharusan.

Sebelum tidur, ada banyak hal yang terpikir, ada banyak tanya yang muncul, bahkan tak jarang seperti berbicara dengan diri sendiri. Bukan berarti tidak memiliki tempat untuk berdiskusi atau bekeluh kesah. Namun, pertanyaan dalam diri memang ditujukan untuk diri sendiri. Apakah aku pantas? Apakah aku salah? Apakah aku terlalu banyak berharap? Aku bermimpikah? Apakah aku sebegitu takutnya? Apakah aku mampu? Apakah aku baik? Apakah yang kurang didalam diri ini? Apakah aku jahat? Apakah bagus begini atau begitu? Dan banyak hal lainnya.

Hidup bukan hanya berhadapan dengan satu dua tiga problema saja. Ada banyak hal. Butuh kekuatan untuk menghadapi semuanya. Butuh pertimbangan. Butuh proses. Butuh tenaga, usaha dan juga pikiran yang lapang untuk melalui semuanya.

Belum lagi diri ini adalah seorang wanita. Yang gampang terpengaruh dengan perasaan yang ada, mudah tersakiti hatinya, gampang terbawa emosi. Mengontrol diri sendiri adalah hal tersulit yang pernah ada.

Menjadi seorang wanita bukanlah perkara yang mudah untuk dilalui. Ada banyak hal yang harus dia jaga dan dia lindungi,begitupun banyak pula hal yang harus dia jauhi. Tapi, sesulit apa pun hambatan dan keterbatasan itu, dia masih tetap bisa melangkah maju karena semua itu bukanlah alasan atau pun penghalang baginya untuk bisa meraih citanya. Mungkin seharusnya begitulah aku menjadi.

Ya... wanita itu harus kuat, dia sakit lalu mampu sembuh sendiri. Wanita itu kuat , ketika dia jatuh, dia sanggup untuk bangkit dan berdiri lagi. Dia mampu tersenyum lebih banyak dari yang tidak kita ketahui, mampu tersenyum lebih tulus padahal ada selaksa air mata yang sedang dia bendung.

Wassalam

Kamis, 27 Oktober 2016

Papa's Birthday

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh






Kini...

Rambut yang dulunya  terlihat hitam

Semakin hari kian memutih

Badan yang dulunya tegap berisi

Sekarang sering terlihat lelah dan rapuh

Hasil kerja kerasnya selama ini bisa kami rasakan

Semua  yang diberikannya  tak terganti

Walau langit dan seiisinya sebagai balasan



Ada banyak perjuangan yang dilakukannya

Ada banyak pengorbanan yang harus diikhlaskan

Ada banyak usaha yang dikerahkannya

Beribu pikiran dan beban yang dipikul hingga menyita waktunya 

Bahkan lupa memperhatikan dirinya sendiri

Kadang ada cercaan yang harus diterimanya

Ada banyak lelah-keringat yang harus dirasakan

Dan ada banyak doa beserta ikhtiar yang dipersembahkannya kepada Sang Khaliq

Itu semua untuk dan demi kebahagiaan keluarganya

Untuk anak-istrinya tercinta di rumah

Pa...

Happy Birthday to you

You are the best that I ever had in the world 



Selamat ulang tahun Papa. Terima kasih banyak untuk Papa selama ini yang telah menjaga dan melindungi kami semua dengan baik. Selamat ulang tahun Papa yang ke-50 tahun. Semoga Papa selalu Allah berikan kesehatan, kelapangan rezeki, diberikan kemudahan dalam menjalani hari-hari, diberikan kesabaran dalam menerima setiap cobaan. Tetap semangat buat Papa, terima kasih udah ngasih kami adik yang lucu lagi dirumah. Jadinya setiap hari ada ketawa dan kesenangan yang muncul dari si kecil Rara

Kami sayang Papa.....

Sehat selalu Pa...Love you...






Rabu, 26 Oktober 2016

Kita Berempat

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Foto jaman kapan ini yaa?? Masih wajah polos agaknya :D

Alhamdulillah ya... pagi ini masih diberikan udara yang segar, masih bisa sarapan enak, dan bertemu dengan orang-orang. Hehe... Hari ini sebenarnya capek, badan terasa ngilu-ngilu ga jelas... ada terselubung niat gak pengen datang ke kantor buat magang kayak biasanya. Rasanya letih aja setelah dua harian kemaren banyak kerjaan dan pulang yang udah keburu malam juga semalam.

Iya, kemaren seharian berkutat di meja kerja, kali ini tugasnya cukup melelahkan. Gak berhenti menggunting kertas, print, nge-cap, mengelem, dan masuk-masukin surat + buku-buku program perencanaan KLHK yang mau di kirim ke seluruh pelosok Sumatera, Jakarta dan sekitarnya, belum lagi nge-pak nya. Mungkin udah seratusan lebih surat yang udah dikerjakan selama dua hari ini :”)

Tapi yo wess... pekerjaannya bukannya sulit kok, hehe. Pegawai-pegawai yang ramah-ramah membuat pekerjaan jadi gak terasa berat. Belum lagi kalau disodorin makanan dan cemilan, haadeeuhhh...makin semangat. Ya kan?? namanya juga habis nambah energi,ya makin semangat dungk.Wkwk.

Pulang magang biarpun saat itu lagi capek dan mau hujan, Nadia dan Etek Apri ngajakin pergi ke Riau Expo. Padahal aku sama Anika mau pergi rada ragu gitu :D Soalnya capek, udah sore jugak.

Akhirnya kami memutuskan buat pergi ke Riau Expo. Habis melalang buana sebentar di Riau Expo, kami sedikit nikmatin jajanan kuliner disana. Kemudian kami tergiur buat masuk ke Mall Ska sekalian main-main aja sih tapi lucu dan nyenengin bisa qtime barengan.

Hai cuyyy... sekarang kita berempat bukan lagi seorang mahasiswa biasa,kita adalah  mahasiswa yang harus mampu untuk menjadi luar biasa. Bentar lagi kita bakal ngadapin dunia yang benar-benar bakal nyeleksi kita. Kita memang bukan anak-anak lagi, kita sudah cukup dewasa untuk menentukan mana yang benar dan yang salah,dan mana yang harus diseriusin dan diajak bercanda.

Aku tau, kita udah terlalu sering bersama....

Bukan...

Kita udah selalu sama-sama anytime, everywhere. Aku yakin, kebersamaan kita adalah hadiah yang terindah dari sang Kuasa. Memiliki orang-orang yang selalu bersama kita adalah harta tak terbayar yang tidak boleh diacuhkan begitu saja dan harus dijaga.

Karena, tidak ada kebersamaan yang membuat sia-sia. Dan tidak ada kenyamanan yang muncul tiba-tiba. Bisa kita lihat, berapa banyak orang yang bersama-sama, tapi mereka tidak tulus dan tidak nyaman satu sama lain. Kesimpulannya, tidak semua orang pula mampu untuk bisa bersama secara utuh.

Dari kebersamaan aku banyak belajar, bukan bagaimana ‘Aku’ bisa tapi bagaimana ‘Kita’ bisa. Memang bukan proses belajar yang singkat mengubah yang egonya ‘Aku’berubah menjadi ‘Kita’, lamaaa....Ya lama. Kadang terdapat konflik, salah paham, kadang bahagia dan menyenangkan,bahkan kadang haru. Mungkin memang begitulah proses untuk menjalin, mempertahankan, dan menjalankan sebuah hubungan kebersamaan.

Mungkin itu saja cerita singkat dipagi ini, semangat buat kita semua. Wassalam











Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca



Rabu, 19 Oktober 2016

Holiday: Candi Muara Takus

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



 
Candi Muara Takus


Menyambung dari cerita sebelumnya, atau coba aja klik disini ya. Kalau udah dibaca, ini sambungan ya... hehe. Waktu itu pulangnya udah sore banget dan kemalaman. Alhasil ternyata ketika kami pulang malam dari Bungus, macet sangat-sangat tidak terelakkan lagi, kami terjebak macet total. Saat itu kondisi jalan mobil seperti merangkak-rangkak. Bisa bayangkan bukan betapa capek dan lelahnya???

Setelah lepas macet di Padang, dan Papa sempat berhenti tidur buat istirahat,  itu sudah memasuki tengah malam. Kemudian kami jalan lagi menuju Payakumbuh dan kena macet lagi di Bukit Tinggi hingga beberapa spot persimpangan buka-tutup jalan sesudahnya. Sehingga waktu itu sampai di Payakumbuh udah subuh hari. 

Karena nyampai di Payakumbuh sekitar jam 4-tan subuh, kami memutuskan buat gak balik lagi ke kampung dan langsung pulang menuju Pekanbaru. Karena udah dipastikan bakal macet total lagi kalau mampir dulu ke kampung, belum lagi besok lusanya adalah hari pertama sekolah.

Alhamdulillah perjalanan menuju Pekanbaru lancar dan sedikit terkena macet di Kampar karena sistem jalan yang buka-tutup balik mudik. Sembari menuju Pekanbaru, waktu itu jam menunjukkan pukul 9-nan, masih pagi. Papa nawarin untuk mengunjungi Candi Muara Takus.

Jujur, 21 Tahun hidup di Riau apalagi kalau pulang kampung selalu lewat sini, belum pernah yang namanya melihat Candi Muara Takus. Memang ada niat, tapi gak terlalu niat mau mengunjungi karena orang yang pernah datang ke Candi dan aku tanyai mengatakan kalau candinya tidak terlalu baguslah, gersang lah, gak menarik dan sebagainya. Makanya belum ada kesempatan buat mengunjungi.


Aku kecil kalo dibandingin dengan candi ini ya -,-

Sedikit informasi mengenai Candi Muara Takus adalah kalau Candi ini adalah satu-satunya candi peninggalan sejarah Budha yang ada di Riau. Terletak di Kabupaten Kampar, Kecamatan XII Koto tepatnya di Desa Muara Takus. Dari simpang masuk menuju Candi,ternyata jauh banget masuk ke dalamnya ya :D belum lagi waktu itu kondisi badan jalan yang banyak rusak di beberapa titik. Harapannya semoga pemerintah setempat cepat membenahi segala fasilitas dan akses jalan menuju Candi. Biar makin rame wisatawan yang mengunjungi candi.


Ketika aku berada di lingkungan candi, tidak begitu buruk seperti yang orang-orang ceritakan. Mungkin tujuan mereka datang ke Candi untuk mencari sesuatu yang hanya bisa dipandang cantik oleh mata, mungkin mereka masih belum memaknai pentingnya sebuah peninggalan sejarah yang ada dan pentingnya menjaga sebuah peninggalan sejarah disekitar kita.


Kalau misalnya kepada semua orang kita mengatakan  Candi yang ada adalah tidak bagus atau apalah. Sudah dipastikan akan membuat kurangnya minat orang-orang mengunjungi peninggalan sejarah yang kita punya bahkan mungkin saja peninggalan sejarah kita bakal tenggelam dimakan zaman kalau tidak ada yang peduli. Ya kan??


Ini adalah ilmu bagi kita, bahkan menimbulkan banyak pertanyaan. Kenapa candi itu bisa dibuat oleh orang dahulu di Riau? kenapa bentuknya unik? kenapa menggunakan batu bata seperti itu? apa bedanya dengan candi-candi lain yang ada di Indonesia??


Dan.... segudang pertanyaan itu bakal dijawab kalau kita memiliki ilmunya, ditambah lagi langsung melihat keadaan peninggalan Candi yang sebenarnya. Amazing banget bisa mengetahui dan melihat langsung sejarah yang ada. Bisa jadi 30 atau bahkan 50 tahun lagi Candinya roboh atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, nah...kita bisa jadi saksi buat anak cucu kita kalau misalkan kita pernah melihatnya secara langsung. 


Bersama adik-adik dengan kondisi muka kucel 
belum mandi sejak kemaren :D

Saat itu kondisi cuacanya begitu panas di area Candi, pepohonan cuma ada di pinggiran Candi. Pada komplek Candi nya tidak ada pepohonan buat berteduh, jadi buat pengunjung disarankan membawa topi atau payung agar tidak terkena sengatan matahari.

Gak banyak mengambil foto di Candi karena lagi panas-panasnya banget, buat keringat bercucuran, apalagi belum mandi kan. Ahaaakksss!! -,-

Namun,  gak perlu cemas, di sekitar Candi banyak yang jual makanan dan minuman, topi dan tempat berbelanja oleh-oleh khas Candi Muara Takus. 

Jika melihat dari beberapa desa yang aku lewati menuju Muara Takus, desanya masih terawat, asri dan sejuk. Gak bakal rugi deh, kalau kita ngunjungi tempat yang bernilai sejarah. Selain menambah ilmu dan pengalaman, juga sebagai wujud rasa kecintaan dan rasa menghargai kita terhadap hal-hal bersejarah.



Sedang berada di atas Candi Utama

Setelah bersantai-santai menikmati minuman dan makanan yang ada disana, kami pun kembali pulang ke Pekanbaru. Mungkin liburan yang paling menyenangkan itu adalah liburan yang bisa membuat kita lebih refresh sekalian menambah ilmu dan pengalaman. Right??

Satu hal yang pasti, Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Banyak sejarah yang harus kita jaga dan lestarikan, yang bisa kita ambil pelajaran, bahkan ilmunya. Ingin menciptakan sejarahmu sendiri??? make it!!!  

Kita bisa saja menjadi sejarah, ntah mungkin karena karya yang kita tinggalkan, karena sikap dan perbuatan yang kita lakukan, karena jejak yang telah kita ukir dan sebagainya. Namun sejarah bukan hanya tinggal sejarah. Sejarah kadang akan berakhir buruk dan kadang berakhir baik. Sejarah apa yang ingin kita wujudkan adalah pilihan dan jalan kita sendiri.

Karena sejarah akan abadi dan dikenang meskipun raga tidak lagi berada di badan, maka penting bagi kita untuk menciptakan sebuah kesan sejarah yang baik. Sejarah gak akan mengenal dari mana dan siapa kita, tapi dari hasil dan apa yang ditinggalkan, sejarah yang kita tinggalkan bermanfaat atau tidak, dibutuhkan atau tidak  bahkan dikenang banyak orang atau tidak.

Itu lah sejarah, bagaimana kita bisa memberikan warisan yang bermanfaat untuk orang lain. Tidak untuk orang lain dahulu, mungkin dicoba untuk bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan kita. Wassalam.


 Area  Candi Muara Takus









Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca

Holiday: Pasumpahan Island


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Pasumpahan Island



Huufffttt.... ada apa dengan semalam?? Haha... mumet gak tau kenapa dan bikin aku jadi gak bisa tidur. Padahal capek banget, belum lagi pake acara mimpiin skripsi segala -,- bener-bener lah ya, pantas senior-senior pada manggil "skripsweet", kebawa mimpi eeuuyy.  Dan karena ee karena... ternyata  tidur kemaleman buat aku jadi telat bangun :( * edisi anak magang telat. Untung aja udah ditolongin ambil absensi cepet sama Etek Apri. Makasih Etek....

Sekarang lagi free job, semua kerjaan udah selesai dan orang-orang di kantor pada banyak yang pergi tugas karena lagi ngurusin bus dan jagain stand perpustakaan keliling KLHK  di Pustaka Wilayah Soeman HS. Alhasil di bagian Program sepi...hanya ada aku, Kak Inun, dan Kak Kissi.

Mumpung lagi kosong, aku mau share liburan ketika libur lebaran beberapa waktu yang lalu.Udah lama yaa... iya, emang udah lama. Belum sempat posting karena sibuk persiapan KKN dan setelah KKN disibukkan dengan magang dan akhirnya lupa mau posting tentang libur lebarannya. Sekarang udah ingat...hehe. Sayang kalo gak di share :P

Lebaran kemaren, aku bersama keluarga alhamdulillah berkesempatan berlibur ke kampung halaman. Dimana lagi kalau bukan di Payakumbuh, ketemu saudara dan pastinya ketemu sama Nenek. Pengennya sih berlibur ke tempat yang baru dengan suasana, budaya, daerah dan jajanan kuliner yang baru. Cuma apalah daya kan, bisa berlibur aja udah syukur-syukur banget. Ya gak??

Karena liburannya di kampung, udah pasti bakal jalan-jalan melalang buana gak jauh-jauh dari sana. Belum lagi jatah waktu libur yang singkat banget. Kami memilih berlibur ke pantai. Ke pantai lagi??? Yaaapp, aku sama Fatimah minta pergi ke pantai, biarpun tahun lalu sebenarnya udah ke Pantai -,- Pantai itu.... look so beautiful, very comfortable, no words can describe how so soooo awesome-lah pokoknya. Gak bosan-bosannya untuk dinikmati bareng orang-orang tersayang, yuhuuuuu~~~

Perjalanan menuju ke Pantai sebenarnya gak memakan waktu yang lama dari Payakumbuh ke Padang. Cuma karena macet berkepanjangan, jadi memakan waktu yang cukup lama selama diperjalanan. Belum lagi untuk istirahat makan dan Sholat, maka akan berhenti dulu. Kalau mau jalan-jalan di Sumbar udah pasti harus nyiapin jadwal yang enak, kudu punya waktu yang fleksibel dan duit yang cukup. Mana tau ada yang pengen menginap di tempat tujuan wisata agar besoknya bisa puas bermanja-manja badai atau kalau gak ingin kena macet dijalan memang harus berangkat yang cepet agar tidak kena macet. 

Tttsaaaaaahhh....Pantai yang kami kunjungi adalah Pantai Carolina di Kecamatan Bungus Kota Padang. Berangkat dari Payakumbuh sekitar jam 8-nan pagi. Sampai di Pantai Carolina sekitar jam 2-an siang. Lama kan?? Gak banyak yang kami lakukan disana, cuma duduk-duduk sambil makan dan menikmati keindahan pantai. Pantai Carolinanya rame banget, pantainya penuh sama pengunjung... namanya musim liburan ya...haha.

Gak terlalu berlama-lama, karena dengar-dengar Pantai Caroline dekat dengan Pulau Pasumpahan, Pamutusan, Sikuai, dan pulau-pulau kecil yang indah lainnya, kami mengajak Papa buat pergi ke pulaunya juga.

Namanya juga liburan yang tidak direncanakan, maka Papa pun coba bertanya-tanya dengan orang sekitar gimana caranya biar bisa pergi ke Pulau. Setelah dapat info, maka sepakat mau pergi ke Pulau Pasumpahan aja dengan menaiki (sewa) speedboat. Uang sewanya udah termasuk PP kok. 

Waktu tempuh dari Pantai Caroline ke Pulau Pasumpahan menggunakan speedboat  memakan waktu sekitar 20 menit. Menyenangkan banget setelah sekian lama tidak naik speedboat. Hihi. Dan ini adalah perjalanan laut pertama mungkin ya buat adik aku si Rara. Waktu itu umurnya masih 7 bulan, Ibu sempat pengen tinggal dan gak mau ikut karena takut Rara sakit kena angin laut, tapi Papa nyuruh ikutan aja. Alhasil semua pada cussss ke Pulau Pasumpahan. Rara pun kelihatan menikmati dan senang...Yeeeaayy!!


Di dalam speedboat 

Dan akhirnya kami sampai di Pulaunya, eksotis dan diapit oleh pulau-pulau kecil lainnya. Lautnya seperti punya sisi tiga warna (gradasi) dari tiap-tiap pulau. Pasirnya putih dan halus, gak pakai alas kaki pun sambil lari-larian gak bakalan sakit. Memang amazing banget Tuhan menciptakan segala sesuatunya, dengan melihatnya saja udah bikin hati rasanya adem. Ada birunya laut, ada hijaunya pulau-pulau. Apa lagi kan yang kurang? :")

Ketika baru sampai di Dermaga Pulau Pasumpahan
Bersama kedua adikku


Saat itu Pulau Pasumpahan sedang rame-ramenya dikunjungi wisatawan. Sempat bingung kudu main air dimana,haha. Di pulau ini kata abang speedboatnya ada bukit setinggi 100 m, kalau naik ke atas bakal nampak pemandangan yang cantik. Cuma aku bareng keluarga memilih tidak mendaki, karena badan yang juga lagi capek, belum lagi bukitnya sedang licin karena baru siap hujan, waktu pun juga gak banyak buat mendaki. Pantas saja banyak tenda-tenda, soalnya para traveler lebih memilih untuk berkemah untuk bisa menikmati alamnya dengan puas. :)


Penampakan  palang nama Pulau Pasumpahan


Nah, bagi yang pengen berfoto-foto untuk mengabadikan momen bersama, di Pasumpahan punya banyak view atau spot foto yang keren-keren. Dimana pun tempatnya keren kok buat foto-foto. Jangan lupa ya, kemana pun pergi kudu stand by kamera. Minimal kamera hp udah cukup kok. 


Ahmad, Ibu dan Rara
Di Pulau Pasumpahan


Sayang banget, pulau dan pantai seindah ini gak nyebur-nyebur atau mandi-mandi, ya kan???Huhu... kami memilih gak nyebur di laut. Mengingat kagak bawa baju ganti dan air buat bersih-bersih di lokasi yang minim. Jadi cuma main-main nyemplungin kaki, foto-foto, makan, dan lari-larian doank. Hahahhahha. 


Adik-adik


Selfie bareng fams


Ada ayunan dari kayu juga yang bisa dijadikan tempat untuk berfoto-foto. Walaupun hanya dari kayu biasa yang dibuat sederhana, not bad kok. Dengan ada ayunannya maka ada daya tarik dan jadi punya keunikan tersendiri. Harapannya bisa dibuat ayunan yang lebih cantik lagi.


Bersama Fatimah


Background diatas dermaga

Setelah puas bermain, sekitar jam lima sorean kami kembali. Waktunya sih kurang untuk bermain puas-puas karena nyampe di lokasi udah telat banget karena macet. But, so far...it was very interesting holiday and helped me to forget about something, badmood and anything else :")

Bersama Ahmad di Pantai Caroline


Aku bersyukur, masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluargaku,menghabiskan waktu bersama, tumbuh bersama, makan bersama. Karena, tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk tetap bisa selalu bersama dengan keluarga yang mereka cintai.

Begitu pun aku, momen bersama keluarga adalah momen yang sebenarnya memang harus diciptakan bersama. Karena akan ada datang masa, dimana kita pasti bakal berpisah dengan mereka. Entah itu mungkin jarak ataupun kehilangan abadi kelak. Jadi, manfaatkan lah kesempatan kebersamaan yang didapat kini dengan orang-orang yang kita kasihi, 

Aku merasa, bukan hanya aku, tapi kita.... semakin kita dewasa, kita semakin sibuk dengan dunia yang kita jalani, ditambah lagi ketika jarak antara orang tua dan anak terbatas. Momen kebersamaan sangat jarang dilakukan,sementara waktu akan terus berjalan. Kesibukan bertambah dan usia pun semakin menua. Jadi, terus lah bersama dan mendoakan orang-orang yang kita kasihi :) Wassalam.

Di pantai Caroline











Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca

Jumat, 14 Oktober 2016

Semangat Si Madan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Apa yang membuat mata dan hati kita selama ini tertutup dengan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung dari kita?Jawabannya adalah ‘Kurangnya kepedulian antar sesama’.Kadang seakan kita bungkam, pura-pura tuli, bahkan pura-pura tidak melihat keadaan lingkungan kita kecuali diri kita sendiri???  Dalam jalur kehidupan, kita terbiasa hidup dan nyaman dengan orang-orang yang sekasta atau sederajat dengan kita. Sangat kurang sekali perhatian dan kepedulian kita terhadap lingkungan atau kehidupan lain selain kehidupan yang membuat kita nyaman saja.

Padahal diluar sana, di dunia sana, yang tak pernah terjamah dan tersentuh dalam pikiran kita. Sangat banyak sekali orang-orang yang membutuhkan kita untuk sedikit saja peduli dan dapat membantu mereka, meringankan beban mereka.

Bukankah yang pintar mengajari yang bodoh, yang kuat melindungi yang lemah, yang ceria menyemangati yang down, yang berlebih berbagi kepada yang kurang, yang bahagia merangkul yang sedang bersedih?? Dengan membayangkannya saja, saling berbagi terasa indah, apalagi jika diwujudkan bersama-sama.

Apakah mungkin?? Dengan kondisi yang seperti ini?? Bersama-sama??? Gak ada yang tidak mungkinkan? Sekedar menumbuhkan kembali harapan dan semangat saja sudah bisa menjadi modal awal mereka untuk menyambung hidup.

Terkadang, untuk bekerjasama saja kita masih banyak milih-milih, tolak-menolak, bahkan menolak kerjaan yang sebenarnya sanggup kita kerjakan. Beberapa waktu lalu, ketika aku akan berangkat KKN dan akan menetap selama kurang lebih dua bulan bersama teman-teman yang tidak satupun diantara mereka yang aku kenal, di daerah yang sama sekali belum pernah aku pijak. Papa berpesan, ‘Lakukan apa yang bisa dilakukan, jangan pilih berat-ringannya suatu pekerjaan. Bagi yang mengerjakan itu adalah tabungan amal bagi diri kita sendiri’.

Dari pesan tersebut aku jadi tersadar akan benarnya dan pentingnya pesan Papa ketika berada di lingkungan yang sedang aku jalani. Memang benar, banyak hal-hal yang membuat aku geleng-geleng kepala. Jika satu pekerjaan saja yang tidak dikerjakan dengan alasan,capek lah, malas lah, bukan tugas kami lah....pada akhirnya sebuah pekerjaan tidak selesai, semua kerjaan jadi terlalaikan dan terbengkalai. Memang harus ada yang mengerjakannya dan itu adalah kepekaan diri kita sendiri.

Si Madan, adalah salah satu bocah yang menginsprirasi terkhususnya bagi diri aku sendiri selama dua bulan berada di daerahnya. Nama lengkapnya yaitu Ahmad Ramadhan. Dengan bahasa dan logat melayunya yang kental, bocah itu sering menyebut dirinya adalah Madan. Aku pun tak ayal sering memanggilnya si Madan .

Pangilan ‘Kakak KKN’ tidak pernah hilang dari ucapannya ketika memanggil kami. Wajahnya ceria, diumur yang masih bocah adalah khas jika ia adalah anak periang dan suka bermain. Namun ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran aku ketika kami belajar bersama. Si Madan berbeda dengan teman-teman seusianya, baik dalam proses ia berpikir maupun berbicara.

Malam itu, pertama kali ia datang di Posko KKN menemui kami untuk belajar bersama teman-temannya. Bisa aku ingat dengan jelas raut semangat wajahnya untuk mengaji dan belajar. Dari sebalik pintu ia mengintip kami dan mengucapkan salam sambil tersenyum. Kami pun mempersilahkan masuk, baik Madan maupun segerombolan teman-temannya.

Rame!!!

Jujur aku kurang suka keramaian yang membuat bising, sedikit ribut dan membuat kepala aku pusing. Sedangkan suara bising adik-adikku dirumah saja kadang membuat aku terganggu apa lagi dengan kondisi seperti itu. Disini agaknya salah satu kesabaran aku di uji kali ya :)

Aku melihat Madan dan dua orang lagi sedang bingung ingin belajar dengan siapa karena teman-teman aku yang lain sudah banyak dihampiri oleh anak-anak yang lain, sehingga Dengan hati terbuka aku memanggilnya untuk belajar denganku saja bersama beberapa teman lainnya. Ada Madan, si Farizi dan Si Kelsa. Madan duduk dikelas 2 SD, Farizi kelas 2 SD dan Kelsa belum sekolah dan masih berumur 4 tahun. Ternyata yang dua orang lagi adalah adik-adik si Madan,

Setelah mengaji bersama, aku mengajari Madan matematika sesuai permintaannya. Cara Madan berbicara, cara Madan belajar, bisa aku rasakan kalau Madan seperti susah memahami semua yang aku ajarkan, matanya tidak terfokus kepada pelajaran, tapi terfokus pada teman-temannya yang sedang bermain, terkadang fokus melihat wajahku saja bukan bukunya. Ketika dikasih latihan ia masih belum sanggup untuk mengerjakannya sendiri.

Aku jadi menggertaknya sambil bercanda untuk fokus belajar. Malah adikknya si Farizi yang banyak membantu abangnya (si Madan) dalam mengerjakan latihan yang aku beri. Aku katakan pada Farizi biar abangnya mengerjakan sendiri dahulu latihannya,pada saat itulah Farizi langsung to the point tentang kondisi abangnya yang sebenarnya yaitu Si Madan.

“Dia ini aturannya kelas 4 SD kak, tapi tinggal kelas 2 tahun, kata Ibu kami seharusnya abang disekolahkan di Sekolah Khusus, bukan disekolah SD biasa, tapi sekolah itu tidak ada disini,” Ujar Farizi dengan tanggap.

Bisa aku tarik maksud dari perkataan Si Farizi. Aku jadi salut banget dengan Farizi, selain pintar berbicara, ia sangat peduli dan mau membantu abangnya yang sedang dalam kesusahan mengerjakan latihan soal.

Dari perkataan Farizi aku jadi mengerti, kalau Madan bukanlah anak-anak seperti biasanya. Ia hanya seorang anak ceria dan penuh semangat. Madan butuh bimbingan dan semangat dari kami-kami agar tetap bisa belajar meskipun dalam keadaan terbatas.

Si Madan adalah anak yang aktif dan ceria, pun kondisi ekomoni keluarga yang pas-pasan membuat kami anak-anak KKN tersentuh. Sulut api semangatnya untuk berjalan tiap malam menuju ke posko KKN untuk belajar selalu ia tapaki bertiga bersama adik-adiknya yang pintar dan lucu itu.

Aku senang... Madan dan adik-adiknya mempercayakan aku buat jadi tutor mereka ketika  belajar bersama di Posko. Meskipun aku sering terkaget-kaget sama Farizi yang kalo punya PR banyak banget, bisa dalam semalam mengerjakan tiga sampai empat PR, Katanya biar PR nya tidak menumpuk dan selesai. Bener juga sih, tapi kaget aja :D Di penghujung KKN  Una pun juga sempat bantuin aku belajar dan bantu buatin tugas si Farizi ini. Hehhe. Makasi Una.  

Belum lagi si Kelsa yang cantik itu, meskipun belum sekolah tapi Iqro dan buku tulis untuk belajarnya selalu iya bawa dan hasil tulisan tangannya baik tentang berhitung dan menulis selalu ia praktekkan di depan aku dan menunjukkan hasilnya padaku. Pintar!!

Yang aku salut dari Madan adalah setiap datang ke posko ia selalu bilang, “Kak, mau belajar!” Sambil membuka  tas dan mengambil buku-bukunya kemudian duduk manis di depan aku. Setiap selesai belajar pun aku terbiasa memberinya PR, namun ketika aku tidak memberinya PR, ia malah meminta dikasih PR. Alasannya biar bisa pintar dan ketemu kakak cantik terus :”) ntah mau terharu atau merasa terhina atau apa gitu kan, jarang-jarang ada yang bilang cantik :”) eehh, tapi anak kecil jujur kan ya? Haha.

Kami anak KKN merasa sangat senang ketika Madan dan adik-adiknya yang sering membawa titipan Ibunya, biasanya Farizi sering memberi buah-buahan dan makanan. Enak!!! Makasih Ibu Madan, Farizi dan Kelsa.

Masih teringat jelas juga ketika saat-saat berada dipenghujung akhir KKN, aku pengen Madan lebih percaya dengan dirinya sendiri, bisa sedikit saja lebih lancar dalam mengungkapkan kata-kata dengan fasih dan jelas.

Saat itu kebetulan di posko aku sedang bersama Ando dan Juntak. Kami mengajari Madan untuk berbicara pemperkenalkan diri sendiri di depan umum. Kami bertiga sempat tertawa ketika Madan memulai dengan mengucapkan salam yang tidak jelas dan kencang dan sangat kaku sekali memperkenalkan dirinya.

Aku pun mulai mengajarinya pelan-pelan namun tetap sedikit sulit, Juntak dan Ando pun juga mencoba mengajarinya dan malah semakin membuatnya malu, tidak ingin berdiri dan berbicara lagi. Untung Ando sabar dan kami juga sabar mengajarnya, sedikit demi sedikit selama dua hari berturut-turut lafal Madan dalam mengucapkan kata-kata memperkanalkan dirinya berangsur baik, dan percaya diri meskipun masih banyak yang harus dipelajari.

Walaupun Madan malu dan tidak hebat dalam satu sisi, tapi semangat nya untuk terus belajar tidak luntur. Sering salah pun membuat Madan gak pernah bosan dan malu untuk belajar ke Posko. Keterbatasan Madan yang ada tidak membuatnya minder dihadapan teman-temannya, Madan sempat malu dan menyuruh adiknya Farizi tutup mulut ketika menyampaikan kalau Madan pernah tinggal kelas ke aku pertama kalinya. Hufftt.... tapi walaupun jujur itu memalukan namun selama kita menganggap kejujuran itu hal yang positif, hasilnya akan positif juga. Ibarat kata pepatah ‘Malu bertanya sesat dijalan.’

Tentang cita-cita nya yang ingin membahagiakan kedua orangtuanya dan ingin menjadi dokter Madan utarakan kepada kami. Semoga bisa terwujud ya Madan, meskipun kakak dan abang-abang sudah pergi tetap semangat buat belajar ya. Kakak rindu sama Madan, sayang...momen kita bersama belum sempat terabadikan dan kita belum sempat perpisahan. Terakhir sebelum pergi kakak hanya ketemu Farizi di jalan dan titip salam semangat ke Madan dan Kelsa.

Memang... hati dan mata kita akan terbuka lebar dan tergerak membantu ketika kita langsung merasakankan sendiri lingkungan yang berbeda. 

Setidaknya bukan hanya satu orang yang seperti Madan, tapi banyak orang diluar sana hidup dalam ketidakberuntungan namun mereka masih memiliki harapan dan semangat buat menjalani hari-hari mereka.  Kisah si Madan dapat kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Sekali lagi bahwa keterbatasan tidak membatasi kita dalam melakukan sesuatu yang ingin dicapai.

Ini hanya baru cerita si Madan,  masih banyak mungkin cerita-cerita lainnya yang tidak terekspos dan butuh perhatian dari kita, dari masyarakat, maupun pemerintah. Kita saling peduli kepada sesama toh tidak akan mendatangkan kerugian ataupun menurunkan derajat kita. Tetapi meninggikan derajat, bukan hanya dihadapan manusia, tetapi dihadapan Allah SWT. Dimana Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.“ 
QS. Al-Zalzalah 7-8

Sekecil apapun kebaikan yang kita kerjakan pasti berbalas dengan kebaikan, begitu lah  janji Allah kepada kita dan dengan kita menolong orang lain, kita pun juga akan mendapatkan pertolongan entah melalui perantara manusia atau pun langsung dari sang Maha Kuasa, sebagaimana sabda Nabi SAW, yakni:

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Mungkin itu saja tentang kisah si Madan, sederhana tapi ada nilai yang bisa kita ambil sebagai pemacu kita untuk terus semangat biar dalam kondisi apapun. Semoga bermanfaat ya bagi kita terkhususnya bagi diri aku sendiri. Wassalam






Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca